Custom Search

News World

Jun 13, 2012

General :: Global Growth Companies

The World Economic Forum’s Community of Global Growth Companies (GGC) was formed in 2007 to engage dynamic high-growth companies with the potential to be tomorrow’s industry leaders and to become a driving force of economic and social change. As of March 2012, 333 companies from over 60 countries had been admitted to the GGC Community.

Members of the Community of Global Growth Companies convene every year at the Chinese-hosted Annual Meeting of the New Champions and at the World Economic Forum’s regional meetings, and collaborate through the private area of the World Economic Forum's website, an exclusive online networking platform for business and government leaders.

Through these activities, GGC members have an opportunity to benefit from:
  • New business opportunities across industries and regions
  • Networking with the world’s leading business and policy experts
  • Peer-to-peer collaboration and experience exchange
  • Industry-specific and cross-industry knowledge sharing
Membership in the Community of Global Growth Companies is by invitation only and includes the world’s fastest-growing corporations.
A typical Global Growth Company has:
  • Consistent annual growth rates exceeding industry and regional averages by 15%
  • Minimum turnover between US$ 100 million and US$ 5 billion, depending on the industry
  • Demonstrated growth potential
  • Capacity and intend to build a global business
  • Exemplary executive leadership

Global Growth Company Partners and Industry Shapers

Global Growth Company Partners and Industry Shapers are key constituents of the Community. They represent the most influential and successful companies within their field and/or region.

Jun 12, 2012

Life Style :: Abraham Samad Belum Bayar Utang 7 Bulan

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Abraham Samad ternyata belum membayar utangnya selama tujuh bulan, sejak 12 Agustus 2011 hingga 1 Maret 2012.

"Utang saya pada tahun ini masih Rp 389.445.150," kata Abraham dalam keterangan pers Laporan Hasil Kekayaan Penyelenggara Negara pimpinan KPK di kantornya, Kamis, 7 Juni 2012.

Dalam LHKPN yang dilaporkan pada 1 Maret lalu, Abraham tercatat berharta Rp 2,32 miliar. Nilai itu tak berubah sejak medio Agustus tahun lalu. Total hartanya terdiri dari harta tidak bergerak Rp 1,84 miliar, alat transportasi Rp 422 juta (turun dari tahun lalu yang sebesar Rp 602 juta), dan giro senilai Rp 447 juta (naik Rp 267 juta dari tahun lalu).

Di antara lima pimpinan KPK, yang berkocek paling tebal adalah Bambang Widjajanto. Bekas Ketua Lembaga Bantuan Hukum itu tercatat berharta Rp 4,8 miliar pada 31 Januari 2012, naik hampir Rp 400 juta sejak November tahun lalu. Ia juga memiliki harta berupa dolar Amerika senilai US$ 50 ribu.

Harta Bambang terdiri dari harta tidak bergerak sebesar Rp 3,07 miliar, alat transportasi sebesar Rp 592 juta, harta bergerak lain senilai Rp 238 juta, serta giro senilai Rp 900 juta dan US$ 50 ribu.

Pimpinan KPK lainnya, Busyro Muqoddas, tercatat berharta Rp 2,46 miliar dan US$ 15 ribu pada 1 Februari lalu. Adapun Zulkarnain berduit Rp 2,7 miliar dan US$ 2500 pada 31 Maret 2012, dan Adnan Pandu Praja berharta Rp 3,02 miliar pada 1 Maret lalu.

Ekonomi dan Kriminal :: Pengusaha Hiburan Keluhkan Razia TNI AL

Dua tempat hiburan malam di kawasan Mangga Besar, Jakarta Barat, malam tadi, dirazia oleh puluhan anggota Tentara Nasional Indonesia dari matra Angkatan Laut. Puluhan anggota TNI AL itu merazia tempat hiburan malam Exotic dan Golden Crown pada sekitar pukul 01.00 WIB.

"Mereka dari POM TNI AL dan bilang mencari anggotanya di dalam tempat hiburan itu," kata Ketua Asosiasi Pengusaha Hiburan Malam Adrian Maulite saat dihubungi Tempo, Ahad, 3 Juni 2012.

Menurut Adrian, aksi yang dilakukan oleh TNI AL tersebut bukan razia, melainkan penyerangan terhadap tempat hiburan. Soalnya, kata Adrian, pihak TNI yang diangkut oleh tiga truk TNI dan patroli pengawalnya itu tidak bisa menunjukkan surat tugas. "Ketika saya minta surat tugas atau surat perintah, mereka tidak bisa menunjukkannya," ujar Adrian.

Puluhan personel TNI AL itu pun lantas memaksa masuk ke tempat hiburan menggunakan senjata laras panjang. Hal itu dikatakan Adrian membuat pengunjung kedua tempat hiburan itu pergi karena ketakutan. "Kami pun hingga subuh masih belum tenang akibat aksi tersebut," ujar Adrian.

Adrian pun mengecam arogansi dari POM TNI AL dalam menjalankan tugasnya. Menurut Adrian, aparat yang ingin melakukan razia terhadap anggotanya harusnya berkoordinasi terlebih dahulu dengan pihak pengelola. "Jadi biar bisa difasilitasi, tidak langsung masuk apalagi membawa senjata laras panjang," ujar Adrian.

Adrian sendiri menyatakan tidak terima dengan perlakuan dari aparat POM TNI AL tersebut. Hal itu dinilai Adrian sebagai bentuk penyalahgunaan wewenang aparat terhadap warga negara. "Bisnis hiburan malam kami legal dan bayar pajak kepada pemerintah juga. Jadi harusnya kami dilindungi, tidak bisa diperlakukan seenaknya seperti ini," ujar Adrian.

Adrian menyatakan akan membawa masalah ini ke Mabes TNI karena dinilai melanggar aturan dan telah merugikan pihaknya. Pengelola hiburan malam disebut Adrian dirugikan karena kenyamanan pengunjung terganggu akibat aksi dari TNI tersebut. "Apalagi mereka tidak bawa surat tugas atau surat perintah itu," ujar Adrian.

Pihaknya juga disebut Adrian akan mengadukan aksi tersebut kepada Panglima TNI soal peristiwa tersebut. Adrian pun mengaku siap dipanggil oleh Mabes TNI untuk mengusut kasus tersebut. "Kami punya bukti dari rekaman CCTV, jadi kapan pun (dipanggil Mabes TNI), kami siap (memberikan bukti)," kata Adrian.

Life Style :: Om Liem Pernah Bantu Sembunyikan Mertua Soekarno di Perang Kemerdekaan

Soedono Salim atau Om Liem dikenal sebagai seorang pengusaha yang sukses. Ternyata ada sisi lain dari Om Liem, yang tidak banyak diketahui oleh banyak orang. Pria kelahiran Juli 1916 ini ternyata pernah membantu menyembunyikan beberapa pejuang kemerdekaan Indonesia yang pada saat itu menjadi buronan para tentara Jepang.

Salah satunya orang yang dibantu Om Liem tanpa mungkin dia mengetahui sosok itu adalah, Hasan Din, seorang pemimpin Muhammadiyah yang juga merupakan ayah kandung dari Fatmawati, istri Presiden pertama RI, Soekarno.

Kisah ini disebutkan dalam buku 'How Chinese are Entrepreneurial Strategies of Ethnic Chinese Business Groups in Southeast Asia? A Multifaceted Analysis of the Salim Group of Indonesia' karangan Marleen Dieleman tahun 2007.

Dalam buku tersebut Marleen menyebutkan pada masa pendudukan Kolonial Belanda maupun Jepang, warga keturunan Cina memiliki kedudukan di atas penduduk pribumi. Itu menyebabkan banyak warga keturunan Cina yang tidak mendukung perjuangan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Namun tidak demikian dengan Om Liem, ia bersama dengan perkumpulannya saat itu sesama warga keturunan Cina malah mendukung perjuangan rakyat pribumi.

"Liem saat itu tergabung dalam organisasi Futsing Hwee, yang nantinya berganti nama menjadi Siang Bu. Pimpinan organisasi itu memilih rumah milik Liem sebagai tempat persembunyian para buron. Liem dipilih karena ia mempunyai karakter pendiam dan dapat dipercaya. Salah satu orang yang ikut disembunyikan oleh Liem adalah pemimpin Muhammadiyah, Hasan Din, yang juga merupakan mertua dari Soekarno," tulis Marleen seperti dikutip detikcom dari bukunya hal 83, Minggu (10/6/2012).

Selanjutnya masih di halaman yang sama, Marleen menulis bahwa, karena kebaikannya itu, pada saat Indonesia berhasil memperoleh kemerdekaan Liem juga mendapat imbasnya. Selain melanjutkan bisnis yang sebelumnya sudah dijalankan, Liem juga melebarkan sayapnya ke industri militer. Melalui koneksi yang ia bangun dengan Hasan Din, ia dipercaya menjadi penyuplai barang-barang untuk Divisi Diponegoro, Jawa Tengah.

"Ia menyuplai barang-barang untuk keperluan para serdadu di Divisi Diponegoro. Bisnis menguntungkan antara kedua belah pihak ini berlangsung cukup lama. Hubungan dagang yang awet ini juga karena ia berhasil membina hubungan baik dengan Hasan Din," tulisnya.

Marleen menambahkan, hubungan baik antara Liem dan Hasan Din ternyata terus berlanjut termasuk pada akhirnya Liem mendirikan grup usahanya yang dikenal sebagai Salim Group. Din disebut-sebut sempat duduk di jajaran direksi di beberapa perusahaan milik Liem.

"Hasan Din juga diketahui merupakan salah satu pendiri dari Salim Group tersebut," terangnya.

IT Conversations

Moneycontrol Latest News

Latest new pages on Computer Hope

Latest from Infoworld

Door Lock

Door Lock Import Top Door Lock from China Contact Quality Manufacturers Now